Pages

About

Senin, 08 Juli 2013

Resensi-Kontroversi dibalik Kampanye Anti Rokok

Judul               : Tipuan Bloomberg
Penulis             : A. Zulvan Kurniawan
Penerbit           : Indonesia Berdikari
Terbit               : Desember, 2012
Tebal               : 92 Halaman
Peresensi         : Hamdani*
Kontroversi dibalik Kampanye Anti Rokok
Kampanye anti rokok yang makin gencar dilakukan oleh berbagai golongan ternyata bukan semata-mata karena peduli tentang bahaya merokok. Banyak kalangan yang menjadikannya alat untuk mengeruk kekayaan dengan dalih kesehatan. Dengan persengkongkolan banyak pihak, kampanye anti rokok mulai terlihat hasilnya di berbagai negara di dunia.
Inti dari semua kampanye anti rokok sebenarnya adalah perang nikotin. Nikotin menjadi rebutan karena punya banyak manfaat medis, namun tidak bisa dipatenkan. Nikotin secara alami banyak terkandung pada tembakau, tomat, kentang dan banyak sayuran lainnya. Hanya senyawa “mirip nikotin” dan sarana pengantar nikotin yang bisa dipatenkan. Sehingga menjadi wajar apabila tembakau sebagai bahan yang banyak mengandung nikotin diperebutkan sampai saat ini.
Salah satu yang gencar dalam mengkampanyekan anti rokok ialah Michael Bloomberg. Walikota New York tiga kali berturut-turut ini merupakan seorang miliader yang memegang mayoritas saham Blomberg LP, selain itu banyak bisnis lainnya yang jangkauannya bersifat global. Dengan kombinasi kekayaan dan kekuasaan, Blomberg makin “berhasrat” untuk memerangi rokok demi menumpuk pundi-pundi uang.
Buku yang di tulis A Zulvan Kurniawan ini, menceritakan tentang perjalanan hidup Blomberg dan usahanya memerangi rokok. Kontroversi atas kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya, menjadikan magnet perbincangan diranah politik, ekonomi, media dan kebudayaan dalam satu dekade terakhir.
Blomberg lahir di Boston 1942 dari keturunan imigran Yahudi-Rusia, kemudian ia menikahi Susan Brown pada 1975. Setelah dikaruniai dua orang anak pada 1993 ia bercerai dengan tuduhan melakukan perbuatan kasar terhadap istrinya selama 18 tahun, walau tuduhan itu tak terbukti. Konon juga perceraian itu terjadi karena ia terlibat sekandal cinta dengan mantan pengawas perusahaannya. Selanjutnya kontroversi-kontroversi terus menghampirinya (hlm 5-6).
Beberapa sikap kontroversinya ialah membolehkan pernikahan homoseksual, sikap pro-Israel, sikap terhadap muslim, aturan untuk merokok dan isu-isu kesehatan. Blomberg juga seorang yang ambivalen, disatu sisi mendukung aborsi namun menolak hukuman mati terhadap narapidana. menurunya lebih baik di hukum sampai akhir hayatnya. Bahkan ia juga mendukung usaha cloning manusia yang ditentang banyak negara.
Dalam kontroversi yang terus menerpanya, ia justru memperoleh beberapa pengakuan dan penghargaan, salah satunya Award For Distinguished Leadership In Global Makets dari Yale School Of Management pada 2003 (hlm 10). Namanya juga harum di kalangan John Hopkins University (JHU), sebuah lembaga riset dan pendidikan dibidang medis dan kesehatan. Bahkan diabadikan untuk salah satu lembaga kesehatan publik, John Hopkins University Blomberg School Of Publick Health (hlm 61).
Jauh sebelum menjabat sebagai walikota, Blomberg adalah pengusaha yang sukses. Menurut majalah Forbes pada 2012 kekayaannya menduduki urutan pertama di New York, peringkat ke-11 di Amerika dan ke-20 di dunia (hlm 15). Saat mulai terjun ke politik, orang yang bercita-cita ingin menjadi presiden itu mengatakan, jika mau mencalonkan diri menjadi aparat pemerintah, akan lebih baik menjadi miliarder dulu, sehingga anda bisa fokus dalam bekerja (hlm. 11). Dengan kekayaan itu juga ia mampu mengubah hukum untuk menduduki walikota New York ketiga kalinya.
Kisahnya ketika masa jabatannya yang kedua sebagai walkota New York akan segera berakhir. Ia mengumumkan akan mencalonkan diri kembali. Namun niatnya terbentur oleh peraturan Dewan Kota yang melarang seseorang menjabat wali kota tiga kali berturut-turut. Dengan semua jaringan dan lobi kekayaaanya, ia berhasil mempengaruhi tokok-tokoh di New York dan AS untuk merubah peraturan tersebut (hlm 30-31)
Dalam kampanye anti rokok, ia bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan farmasi penjual obat-obat yang dapat menghentikan kebiasaan merokok. Selain itu dia memberikan bantuan besar kepada sejumlah lembaga pendidikan tinggi, pusat riset, lembaga pemerintah, organisasi sosial, dan badan-badan internsional untuk aktif dalam kampanye anti rokok.
Melalui Blomberg initiative, Michael Blomberg tak segan untuk mengucurkn dana yang besar demi memerangi rokok, pada 2006 ia mengucurkan 125 juta dolar AS kemudian 250 juta dolar pada 2008. Dana itu mengalir ke banyak lembaga di dunia. Di Indonesia dana menyebar melalui berbagai organisasi non-pemerintah, pemerintah, perguruan tinggi, hingga ke DPR (hlm 80-81).
Demi menopang kampanye anti rokok, “sang filantrofi” bersekongkol dengan orang-orang elite di Amerika, termasuk Rockefeller, Carnegie, Ford, Morgan, Gates, dan sebagainya (hlm 57-73). Dalam persekongkolan orang-orang yang berpengaruh di Amerika Serikat itu industri farmasi menjadi industri yang paling menguntungkan. Menurut majalah Fortune, besarnya imbalan pendapatan mereka rata-rata tiga kali lipat dari semua rata-rata industri lainnya. Bahkan jika ditotal  dari empat perusahaan terbesar farmasi jumlahnya melebihi perekonomian India (hlm 47).
Buku ini bukan bermaksud untuk mendukung atau menentang para perokok. Namun lebih mengungkap peristiwa di balik kampanye anti rokok yang tidak diangkat publik. Dengan data dan bahasa yang luwes buku ini layak dibaca para pemegang kebijakan, pemerhati tembakau dan masyarakat umum. Selamat membaca..!
*) Peresensi Aktif di LPM Paradigma FITyK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta