Judul : Tipuan Bloomberg
Penulis : A. Zulvan Kurniawan
Penerbit : Indonesia Berdikari
Terbit : Desember, 2012
Tebal : 92 Halaman
Peresensi : Hamdani*
Kontroversi dibalik Kampanye Anti Rokok
Kampanye
anti rokok yang makin gencar dilakukan oleh berbagai golongan ternyata bukan
semata-mata karena peduli tentang bahaya merokok. Banyak kalangan yang
menjadikannya alat untuk mengeruk kekayaan dengan dalih kesehatan. Dengan persengkongkolan
banyak pihak, kampanye anti rokok mulai terlihat hasilnya di berbagai negara di
dunia.
Inti
dari semua kampanye anti rokok sebenarnya adalah perang nikotin. Nikotin
menjadi rebutan karena punya banyak manfaat medis, namun tidak bisa dipatenkan.
Nikotin secara alami banyak terkandung pada tembakau, tomat, kentang dan banyak
sayuran lainnya. Hanya senyawa “mirip nikotin” dan sarana pengantar nikotin
yang bisa dipatenkan. Sehingga menjadi wajar apabila tembakau sebagai bahan
yang banyak mengandung nikotin diperebutkan sampai saat ini.
Salah
satu yang gencar dalam mengkampanyekan anti rokok ialah Michael Bloomberg. Walikota
New York tiga kali berturut-turut ini merupakan seorang miliader yang memegang
mayoritas saham Blomberg LP, selain itu banyak bisnis lainnya yang jangkauannya
bersifat global. Dengan kombinasi kekayaan dan kekuasaan, Blomberg makin
“berhasrat” untuk memerangi rokok demi menumpuk pundi-pundi uang.
Buku yang di tulis A Zulvan Kurniawan ini, menceritakan
tentang perjalanan hidup Blomberg dan usahanya memerangi rokok. Kontroversi
atas kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya, menjadikan magnet perbincangan
diranah politik, ekonomi, media dan kebudayaan dalam satu dekade terakhir.
Blomberg lahir di Boston 1942 dari keturunan imigran
Yahudi-Rusia, kemudian ia menikahi Susan Brown pada 1975. Setelah dikaruniai
dua orang anak pada 1993 ia bercerai dengan tuduhan melakukan perbuatan kasar
terhadap istrinya selama 18 tahun, walau tuduhan itu tak terbukti. Konon juga perceraian
itu terjadi karena ia terlibat sekandal cinta dengan mantan pengawas
perusahaannya. Selanjutnya kontroversi-kontroversi terus menghampirinya (hlm
5-6).
Beberapa sikap kontroversinya ialah membolehkan pernikahan
homoseksual, sikap pro-Israel, sikap terhadap muslim, aturan untuk merokok dan
isu-isu kesehatan. Blomberg juga seorang yang ambivalen, disatu sisi mendukung
aborsi namun menolak hukuman mati terhadap narapidana. menurunya lebih baik di
hukum sampai akhir hayatnya. Bahkan ia juga mendukung usaha cloning manusia
yang ditentang banyak negara.
Dalam kontroversi yang terus menerpanya, ia justru
memperoleh beberapa pengakuan dan penghargaan, salah satunya Award For Distinguished Leadership In Global Makets dari Yale School Of Management pada 2003 (hlm
10). Namanya juga harum di kalangan John Hopkins University (JHU), sebuah
lembaga riset dan pendidikan dibidang medis dan kesehatan. Bahkan diabadikan
untuk salah satu lembaga kesehatan publik, John
Hopkins University Blomberg School Of Publick Health (hlm 61).
Jauh
sebelum menjabat sebagai walikota, Blomberg adalah pengusaha yang sukses.
Menurut majalah Forbes pada 2012
kekayaannya menduduki urutan pertama di New York, peringkat ke-11 di Amerika
dan ke-20 di dunia (hlm 15). Saat mulai terjun ke politik, orang yang
bercita-cita ingin menjadi presiden itu mengatakan, jika mau mencalonkan diri menjadi
aparat pemerintah, akan lebih baik menjadi miliarder dulu, sehingga anda bisa
fokus dalam bekerja
(hlm. 11). Dengan kekayaan itu juga ia mampu mengubah hukum untuk menduduki
walikota New York ketiga kalinya.
Kisahnya ketika masa jabatannya yang kedua sebagai walkota
New York akan segera berakhir. Ia mengumumkan akan mencalonkan diri kembali.
Namun niatnya terbentur oleh peraturan Dewan Kota yang melarang seseorang
menjabat wali kota tiga kali berturut-turut. Dengan semua jaringan dan lobi
kekayaaanya, ia berhasil mempengaruhi tokok-tokoh di New York dan AS untuk
merubah peraturan tersebut (hlm 30-31)
Dalam
kampanye anti rokok, ia bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan farmasi
penjual obat-obat yang dapat menghentikan kebiasaan merokok. Selain itu dia
memberikan bantuan besar kepada sejumlah lembaga pendidikan tinggi, pusat
riset, lembaga pemerintah, organisasi sosial, dan badan-badan internsional untuk
aktif dalam kampanye anti rokok.
Melalui
Blomberg initiative, Michael Blomberg tak segan untuk mengucurkn dana yang
besar demi memerangi rokok, pada 2006 ia mengucurkan 125 juta dolar AS kemudian
250 juta dolar pada 2008. Dana itu mengalir ke banyak lembaga di dunia. Di
Indonesia dana menyebar melalui berbagai organisasi non-pemerintah, pemerintah,
perguruan tinggi, hingga ke DPR (hlm 80-81).
Demi menopang kampanye anti rokok, “sang filantrofi” bersekongkol
dengan orang-orang elite di Amerika, termasuk Rockefeller,
Carnegie, Ford, Morgan, Gates, dan sebagainya (hlm 57-73).
Dalam persekongkolan orang-orang yang berpengaruh di Amerika Serikat itu industri
farmasi menjadi industri yang paling menguntungkan. Menurut majalah Fortune, besarnya imbalan pendapatan
mereka rata-rata tiga kali lipat dari semua rata-rata industri lainnya. Bahkan
jika ditotal dari empat perusahaan
terbesar farmasi jumlahnya melebihi perekonomian India (hlm 47).
Buku ini bukan bermaksud untuk mendukung atau menentang para
perokok. Namun lebih mengungkap peristiwa di balik kampanye anti rokok yang
tidak diangkat publik. Dengan data dan bahasa yang luwes buku ini layak dibaca
para pemegang kebijakan, pemerhati tembakau dan masyarakat umum. Selamat
membaca..!
*) Peresensi Aktif di
LPM Paradigma FITyK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
