Pages

About

Jumat, 04 Januari 2013


Samurai Pertama yang Dipaksa Berperang demi Kehormatan

Inilah kisah perjalanan samurai pertama yang lugu, setia, dan cinta damai, namun dipaksa berperang untuk mempertahankan wilayah dan kehormatannya. Seorang tokoh samurai yang dikagumi oleh Miyamoto Musashi dan Minamoto No Yoritomo.
Judul Buku : Taira No Masakado, Kisah Tentang Cinta, Darah, dan Air Mata
Penulis : Eiji Yoshikawa
Penerbit : Kansha Books
Terbit : I, 2012
Tebal : 635 halaman

Eiji Yoshikawa, penulis asal Jepang yang tersohor dengan kebiasaannya merevisi kisah-kisah klasik zaman dulu, kemudian diceritakan ulang dengan gayanya yang khas. Kali ini, novel terbarunya berjudul Taira No Masakado ditulis setelah Yoshikawa meriset sejarah dan pemberontakan Masakado yang terjadi di abad sembilan.

Buku ini menceritakan perjalanan hidup Taira No Makasado sejak kecil hingga kematian. Sejarah Jepang mencatat Masakado sebagai samurai yang mulanya berusaha berjalan di hukum kekaisaran. Sayang, keadaan harus memaksanya membela diri hingga memunculkan perang antarklan. Akhirnya, dalam suatu peristiwa, dia pun disebut sebagai pemberontak.

Dikisahkan, Masakado tumbuh sebagai anak dan pemuda baik hati dengan pikiran positif. Pascakematian ayahnya, harta kekayaan keluarga Masakado dikelola ketiga pamannya yang memiliki sifat tamak dan licik. Bahkan, mereka juga berhasrat menghabisi Masakado.

Setelah rencana membunuh Masakado gagal, pamannya mengirim Kojiro (nama masa kecil Masakado) ke Kyoto untuk menjadi pelayan kelas rendah di tempat kediaman Fujiwara no Tadahira, seorang menteri kiri di pemerintahan (hlm 19).

Setelah dewasa, Masakado kembali ke kampung halaman. Ia mendapati harta peninggalan ayahnya dikuasai penuh paman-pamannya. Gagal meminta kembali, Masakado bersama adik dan para pembantu setia ayahnya bekerja keras untuk meraih kembali kejayaan dan berhasil. Pengikut Masakado juga semakin bertambah (hlm 209).

Masakado jatuh cinta pada Kikyo, putri perajin baju zirah yang pernah ditolong ayahnya. Cinta bersambut dan mendapat persetujuan kedua orang tua Kikyo. Namun, dua putra Minamoto no Mamoru dari klan Hitachi Genji, tuan tanah di Dataran Bando juga berhasrat pada Kikyo. Dua putra Minamoto dibakar cemburu buta. Hasutan ketiga paman Masakado mendorong mereka membuat gerakan yang memunculkan perang antarklan berkepanjangan. Namun, kubu Masakado selalu menang.

Perang pecah lagi saat kebahagiaan Masakado bersama Kikyo dan anaknya yang baru lahir. Pada saat yang sama, Masakado tengah terserang penyakit beri-beri hingga agak lamban bereaksi. Kikyo dan anaknya bersembunyi di salah satu sungai. Tapi, musuh berhasil menemukannya dan membunuh mereka berdua.

Kematian ini amat menghancurkan Masakado. Kendati demikian, hal ini tidak meredakan rasa iri paman dan sepupunya. Perang antarklan kemudian berkembang menjadi pemberontakan. Diperkeruh juga dengan embusan isu yang menyebut Masakado sebagai kaisar baru.

Karena dianggap sebagai ancaman, kaisar pun menyediakan hadiah besar bagi siapa pun yang bisa membunuh dan membawa kepala Masakado kepadanya. Dia pun berhasil dibunuh dan kepalanya pun dipenggal untuk dibawa ke Kyoto sebagai bukti (hal 571).

Perang dengan pemerintah pusat Kyoto ini terjadi pada tahun 939–940 dan dikenal sebagai perang paling dramatis karena bertepatan dengan gempa bumi, gerhana bulan, pemberontakan di utara, dan serangan bajak laut. Soma no Kojiro Masakado meninggal pada 14 Februari 940 M.

Tragedi kematian Masakado terus menjadi perbincangan hingga sekarang. Konon, karena merasa diperlakukan tidak adil, kepala Masakado yang dibawa ke Kyoto melayang dan jatuh di tanah kelahirannya Desa Shibasaki (sekarang berada di tengah atau pusat Kota Tokyo). Untuk menenangkan arwahnya, masyarakat membangun kuil di tempat jatuhnya kepala Masakado.

Bahkan, juga dikabarkan orang-orang yang memfitnah Masakado satu-per satu tertimpa musibah, meninggal secara mengenaskan. Di zaman modern, beberapa kali makam dan kuil Masakado yang terletak di tengah Kota Tokyo akan dialihfungsikan, namun selalu diikuti dengan rentetan bencana.

Inilah kisah perjalanan samurai pertama yang lugu, setia, dan cinta damai, namun dipaksa berperang untuk mempertahankan wilayah dan kehormatannya. Seorang tokoh samurai yang dikagumi oleh Miyamoto Musashi dan Minamoto No Yoritomo.
Diresensi Hamdani, tinggal di Blora
Terbit di Koran Jakarta Rabu, 26 Desember 2012
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/108852

0 komentar:

Posting Komentar